Penantian sia-sia
Sudah lama aku memimpikan hal ini, berdiri dihadapannya dan
menatap matanya yang begitu indah dan mengagumkan ditambah dengan senyumnya yang
tipis namun menyejukkan hati.
“hai,apa kabar? Masih menungguku?”
“tidak pernah sebaik ini. Selalu,aku selalu menunggumu dari
dulu hingga sekarang. Sudah banyak pria yang kuabaikan demi kau.”
“maaf.”
“hah apa hanya itu saja yang mampu kau ucapkan setelah semua
pengorbananku selama ini? Apa kau tidak tau selama ini aku tetap setia menunggumu.
Dan setelah pengorbananku ini hanya kata maaf yang kudapatkan? Kamu jahat.” Kemudian
aku merasakan pipiku basah. aku menangis, menangis dihadapan pria yang telah
membuat luka yang sangat besar dihatiku sekaligus pria yang sangat aku sayangi.
“aku tidak bisa berbuat apa apa, aku menyayangimu tapi kita
tidak bisa bersatu. Aku masih menghargai perasaan sahabatku Aldo, dia
mencintaimu Kanna terimalah dia dan lupakan aku.”
“ngga bisa,aku ngga bisa menerimanya. Apa kamu tidak bisa
egois sedikit? Egois demi aku, sudah cukup kau selalu mengalah deminya. Sekarang
giliranmu untuk bahagia Rey.”
“maaf, aku bener bener ngga bisa selain aku tidak mau menyakiti
hati Aldo, aku sudah memiliki pasangan. Maafkan aku Kanna, selamat tinggal.” Setelah
kepergiannya aku langsung menangis sejadi-jadinya, menangisi pria yang jelas
jelas sudah melukai hatiku dan membuatku patah hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar